Rindu Idul Adha Masa Kecil

Sumber Disini
Selamat Hari Raya Idul Adha 1434H Semuanya. Semoga amal ibadah dan qurban kita tahun ini diterima dan berkah. Amin…

Ah… Ini merupakan tahun keempat gue merayakan Idul Adha di Jakarta. Yap, 4 tahun sudah gue hidup dan tinggal di kota metropolitan ini. banyak keluh kesah, senang dan sedih yang tentunya gue rasakan selama 4 tahun ini. Yah, namanya juga hidup, engga selamanya mulus kan?.

Tadi siang sekitar jam 11.30 WIB gue pergi ke Cilangkap rumah abang gue, katanya ada acara keluarga di salah satu rumah saudara gue. kita semua kumpul dirumah abang gue baru setelah itu langsung kerumah saudara gue tersebut. Tapi bukan ini yang mau gue ceritakan, karena gue gak berminat sedikit pun dengan cerita kumpul keluaga ini. I feel so bad about that.

Sewaktu gue jalan menuju gank depan rumah, gue melewati masjid yang memang berjarak hanya sekitar 100 meter dari rumah. Di depan masjid sedang ada penyembelihan hewan kurban. Gue melihat banyak sekali anak kecil yang antusias melihat kambing dan sapi tersebut disemebelih. Tiba-tiba gue teringat masa kecil gue. Bagaimanapun juga gue pernah menjadi anak kecil loh!.

Gue heran dengan anak kecil yang asik menikmati pemandangan sadis itu. Sewaktu gue kecil yang ingusan bahkan sampai segede dan seganteng sekarang ini gue gak pernah mau melihat aksi tersebut. entahlah, gue suka merasa iba melihat hewan-hewan kurban itu. Tapi mungkin sampai disitulah nasib mereka. semoga kalian ikhlas ya Mbing-Pi disembelih.

Waktu kecil lebih tepatnya semenjak gue SD, gue paling gembira setiap yang namanya lebaran datang. entah itu Idul Fitri maupun Idul Adha. karena bagi gue kedua hari besar islam tersebut memiliki keistimewaan sendiri. Idul Fitri saatnya pundi-pundi rupiah mengampiri gue dengan sendirinya dan Idul Adha saatnya gue menikmati makanan enak sampai seminggu kedepan.

Biasanya setelah sholat Idul Adha di lapangan gue akan standby di rumah sambil menunggu pengumuman dari musholla dan masjid bahwasannya kupon daging kurban sudah bisa diambil. Yap, saat itulah gue bakalan keluar rumah membawa kupon-kupon yang nantinya bisa gue tukar dengan sekantong daging. memang itulah yang menjadi rutinitas gue setiap lebaran haji dan gue happy dengan hal tersebut. Namun itu untuk masjid di deket rumah gue. biasanya gue berbagi tugas dengan kakak gue.

Nah, kalau untuk masjid yang cukup jauh dari rumah gue, biasanya pukul 11.00 gue udah jalan dari rumah dengan semangat 45 dan selalu berujung kecewa karena sesampai di masjid belum ada satupun kupon yang bisa ditukar. Tapi gue gak kembali pulang kerumah, gue menunggu. Yap, menunggu dengan anak-anak sebaya gue. biasanya kita main-main atau hanya sekedar ngobrol tentang film kartun kesukaan.  berbeda dengaan anak sekarang yang obrolannya seputar cinta, galau atau gosip selebriti terbaru. ah.. tiba-tiba gue merindukan mas kecil gue.

Sampai dirumah biasanya ibu gue udah siap di dapur dengan bumbu-bumbu lengkapnya. setiap lebaran haji rumah gue dibanjiri dengan makanan dari segala bentuk daging. dari mulai sop, rendang, dendeng, dan gulai. Tak lupa gue dan kakak-kakak gue pesta besar yakni bakar sate, tentunya dengan bumbu racikan wanita paling hebat sedunia versi gue. Yoi ibu gue adalah orang paling hebat masak seduniaaaa. makanan ibu gue ga tertandingi sama masakan restoran mahal manapun.

Jika dibanding dulu dan sekarang sangat jauh berbeda. sekarang seusai sholat ied gue akan kembali ke tempat tidur gue sambil membayangkan waktu masa kanak-kanak gue. sekarang no rendang, no dendeng, no sate. karena biasanya di Jakarta kebanyakan kurbannya adalah kambing berbeda dengan kampung halaman gue di Sungai Penuh, Kerinci Jambi yang kebanyakan hewan kurbannya adalah sapi. Karen gue gak suka daging kambing, jadi selamat meratapi nasib saja gue di kamar. Perbedaan yang paling utama dan paling penting adalah gue berlebaran ngak dengan kedua orang tua gue. Hiks.

Sekarang gue hanya bisa mengenang masa-masa kejayaan gue, masa-masa dimana gue adalah orang yang paling semangat menyambut hari raya datang. Hidup begitu cepat berlalu, rasanya baru kemarin sore gue lagi asik bakar-bakar sate dengan kakak-kakak gue, bercanda sambil rebut-rebutan dan lomba makan sate terbanyak. sekarang gue cuma bisa menjadi seorang perindu. Perindu kisah masa lalu yang tak akan pernah terulang.

Sekian cerita gue tentang Idul Adha, bagaimana dengan cerita kalian? yuk di share di kolom komentar. ditunggu ya....

Postingan ini selain dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Adha 1434 H juga sebagai postingan dalam #TematikBlogJB Jamban Blogger minggu ini. udah tau Jamban Blogger? kalau belum yuk di kunjungi web nya. tinggal klik Banner dibawah ini. Oya jangan lupa follow twitternya ya @JambanBlogger Terima Kasih.


Comments

  1. Emang anak-anak jaman dulu sama jaman sekarang tuh beda banget. Dulu gue yang namanya idul adha ga pernah keluar, takut sama hewan kurbannya, ya akhirnya cuma nungguin daging dianterin ke rumah trus dibikin sate~ :))))

    ReplyDelete
    Replies
    1. Wahahah gue sampe sekarang emg ogah liat itu penyembeliha.. Lah anak2 sekarang malah seneng liat yg tragis-tragis gitu.. Hadehhh... -_-

      Delete
  2. Dulu dapet angpao, sekarang enggak T_T faktor umur haha. Pernah deh gue lihat pertama kali hewan disembelih, alamak, itu sapi nangis, gue ikutan nangis dan pulang *flashback waktu kecil*

    ReplyDelete
    Replies
    1. Iyaa faktor umur -,-

      Iyaa aaaakkk gue gapernah tega liat itu hewan-hewan disembelih dr ingusan sampe seganteng sekarang *eh
      Ahahah

      Delete
  3. Dapat daging sapi dong :)
    Banyak lagi :D

    ReplyDelete
    Replies
    1. aaaakkkkk.... bagi sate nyaaaaa biiiiiiiiiiiiiiiiiiiii...........

      Delete

Post a Comment

Terima kasih sudah membaca. Silahkan memberikan komentar di Comment Box. Komentar kalian merupakan semangat bagi penulis :)